Jumat, 16 November 2018

REKAYASA TEKNOLOGI UPAYA PERCEPATAN PERTUMBUHAN TERUMBU KARANG


PENDAHULUAN
Terumbu karang (coral reef) merupakan suatu ekosistem dasar laut yang berfungsi sebagai habitat atau tempat tinggal untuk hewan – hewan laut (Dahuri, 1999 dalam Zulfikar, 2008). Fungsi lain dari terumbu karang sebagai suatu ekosistem laut yaitu sebagai tempat pemijahan, tempat mencari makan untuk makhluk hidup, sebagai pelindung pantai dari degradasi dan abrasi (Dahuri, 2000 dalam Santoso, 2010). Luas area terumbu karang di Indonesia seluas 85.707 km2 (Tomascik et al, 1997 dalam Zulfikar, 2008)
Keadaan terumbu karang di Indonesia kini semakin buruk yang diakibatkan oelh bencana alam dan perbuatan manusia. Bencana alam berupa coral bleaching, angin topan dan tsunami dapat merusak ekosistem terumbu karang di dasar laut (Westmacott, 2000 dalam Rudi, 2005). Kerusakan terumbu karang terbesar diakibatkan oleh ulah manusia seperti kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti pemboman, pembiusan, penggunaan racun oleh nelayan, penambangan karang dan pasir merupakan kegiatan manusia yang dapat merusak ekosistem terumbu karang (Kembey, 2017). 
Menurut Zulfikar, (2008) upaya perbaikan ekosistem terumbu karang di Indonesia harus diperbaiki secepatnya karena waktu pemulihan dari ekosistem terumbu karang relatif lama dan meminimalisir keruskaan semakin parah. Upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat permulihan ekosistem terumbu karang yaitu dengan rekayasa teknologi berupa teknologi terumbu karang buatan dan teknologi tranplantasi karang. Menurut Kambey, (2017) teknologi terumbu karang buatan dapat dilakukan dengan membuat terumbu buatan dari bahan bambu (bamboreef).

METODOLOGI
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada dua tempat. Penelitian mengenai teknologi fragmentasi buatan karang (Caulastrea furcata dan Cynarina lacrimalis) dilakukan di Laboratorium Pusat Riset Perikanan Tangkap yang terletak di jalan Pasir Putih Ancol Jakarta Utara (Zulfikar, 2008). Penelitian mengenai penempatan terumbu buatan dari bahan bamboo “Bamboreef” dilakukan di perairan terumbu karang Kelurahan Malalayang Dua Kecamatan Malalayang Kota (Kambey, 2017).
3.2 Prosedur 
3.2.1 Teknologi Fragmentasi Buatan Karang
Proses pengerjaan teknologi fragmentasi buatan karang dilakukan dengan persiapan bak pemeliharaan, pemberian pakan tambahan, metode pengambilan karang, aklimatisasi dan fragmentasi. Bak pemeliharaan digunakan unruk tempat penangkaran karang selama masa aklimatisasi hingga fragmentasi. Upaya yang dilakukan untuk menunjang pertumbuhan karang dan sebagai bentik manipulasi habitat karang, maka ditambahakan plankton dari jenis copepod dan nano chloropsis. Sebelum difragmentasi karang terlebih dahulu melalui proses aklimatisasi selama dua minggu. Proses fragmentasi dapat dilanjutkan apabila kondisi karang yang telah melalui proses kalimatisasi dalam keadaan baik. Fragmentasi menggunakan gunting menjadi 4 bagian (Zulfikar, 2008).
3.2..2 Penempatan Terumbu Karang Buatan (Bamboreef)
Tahap yang dilakukan dalam penempatan terumbu karang buatan (bamboreef) yaitu pembuatan bambooreef (terumbu buatan dari bahan bamboo), penempatan/peletakan bambooreef di daerah sekitar terumbu karang alamiah, dan monitoring serta pengamatan kehadiran ikan karang. Pembuatan bambooreef menggunakan bahan kayu jawa, paku, tali nylon, dan cableties (Kembey, 2017). 
Gambar 1. Bambooreef

3.3 Analisis Data
3.3.1 Teknologi Fragmentasi Buatan Karang
Data yang telah dikumpulkan dilakukan analisis dengan rancangan acak lengkap menggunakan SPSS for Windows. SPPS adalah sebuah program computer yang digunakan untuk membuat analisis statistika (Zulfikar, 2008).
3.3..2 Penempatan Terumbu Karang Buatan (Bamboreef)
Analisis yang digunakan setelah pengumpulan data yaitu dilakukan analisis secara deskriptif kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan perhitungan matematik. Proses analisis dilakukan untuk mengetahui potensi sumber  ikan karang yanga berada di daerah bambooreef yang dapat menggambarakan perikanan di terumbu karang. Perhitungan dilakukan untuk mendapakan besarnya kepadatan ikan (ekor/ha) dan  keanekaragam jenis ikan yang ada (Kambey, 2017). 

HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Kondisi Terumbu Karang
Kondisi terumbu karang di Indonesia kini semakin memburuk, dalam kurun waktu 4 tahun (2004-2008) 34% berkondisi sangat rusak, dan hanya 4% yang dalam kondisi sangat baik, dan dikhawatirkan laju degradasi semakin cepat apabila tidak dilakukan pencegahan dan perbaikan terumbu karang tersebut. Menurut Santoso (2010), kondisi terumbu karang dilihat dari bagian Kepulauan Seribu, didapatkan penutupan terumbu karang rata – rata tergolong rendah menuju sedang yaitu 27,41%. Kerusakan yang terjadi diakibatkan oleh peningkatan suhu, kondisi batimetri, pasang surut perairan dan aktifitas manusia dalam menangkap ikan serta kegiatan wisata pantai. Kondisi terumbu karang di perairan Pantai Pangandaran berdasarkan penelitian Hartati (2016), disebabkan oleh bencana alam berupa tsunami dan ulah manusia dalam melakukan penangkapan ikan. Hasil penelitian menyatakan ada 66 jenis ikan karang yang terindentifikasi dengan kepadatan sangat jarang. Selain melihat keaneragaman jenis ikan karang, dilihat juga hubungan antara ikan dan ekosistem karang di perairan yang lebih sedikit dibandingkan kehadiran ikan dengan tutupan alga. Namun menurut Rudi (2015), bencana alam tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam tidak ditemukan potensi kerusakan yang serius akibat bencana tsunami terhadap ekosistem terumbu karang dilihat dari beberapa stasiun pengamatan ekosistem terumbu karang di Perairan Sabang. Kondisi terumbu karang juga dilihat dari penelitian Indarjo (2004), di Perairan Pulau Panjang Jepara berdasarkan kedalaman perairan yang didapatkan kondisi terumbu karang di kedalaman 3 meter dalam kondisi sedang, sebagian lainnya dalam kondisi buruk. Sedangkan semua stasiun di kedalaman 7 meter dalam kondisi buruk.

3.2 Upaya Perbaikan
Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat berpengaruh di perairan dan proses pemulihan kondisi habitat terumbu karang yang mengalami kerusakan memerlukan waktu yang lama. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan upaya perbaikan menggunkana rekayasa teknologi untuk mempercepat pertumbuhan terumbu karang. Teknologi yang dapat dilakukan seperti (Zulfikar, 2008) :
a. Teknologi Fragmentasi Buatan Karang
Penelitian menggunakan dua jenis karang yaitu Caulastrea furcata dan Cynarina lacrimalis. Proses fragmentasi karang jenis Caulastrea furcate difragmentasi dengan menggunakan gunting pemotong dengan cara memotong karang dan jenis Cynarina lacrimalis membelah karang tersebut pada bagian pangkalnya menjadi beberapa bagian(1 polip, 2 polip, 3 polip dan 4 polip). Pengamatan dilakukan dengan melihat persentase ketahanan hidup, pertumbuhan panjang dan petumbuhan lebar karang setelah dilakukan fragmentasi.
Tabel 1. Pengamatan Karang Hasil Fragmentasi

Caulastrea furcata
Cynarina lacrimalis
Jumlah Polip
1
2
3
4
1
2
3
4
Ketahanan Hidup (%)
100
66,7
88,9
58,3
100
66,7
66,7
58,0
Pertumbuhan Panjang (mm/bulan)
1,64
1,55
1,42
1,08
1,47
0,90
0,62
0,61
Pertumbuhan Lebar (mm/bulan)
0,71
0,82
0,51
0,62
1,57
1,16
1,16
0,89

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil fragmentasi jenis karang Caulastrea furcate dan Cynarina lacrimalis dapat dijadikan upaya untuk mempercepat pertumbuhan karang karena ketahanan hidup yang lebih dari 50% hingga 100%. Cara fragmentasi paling baik untuk Caulastrea furcate dan Cynarina lacrimalis dengan perlakuan 1 polip yang memiliki pertumbuhan panjang dan lebar yang tinggi. 
b. Terumbu Buatan Dari Bahan Bambu (Bambooreef)
Pembuatan bambooreef, dipasang ±12 meter dari terumbu karang asli. Pengamatan dan pemasangan bambooreef selama 8 bulan untuk mengetahui bagaimana adaptasi ikan dengan bambooreef. Setelah 8 bulan ternyata terdapat 15 jenis ikan karang yang diantaranya ditemukan ikan berukuran masih kecil atau belum memasuki ukuran ikan siap tangkap. Hal ini menunjukkan bahwa penempatan terumbu buatan memberikan habitat yang baru bagi ikan karang dan dalam periode selanjutnya wilayah ini diharapkan akan menjadi daerah penangkapan ikan yang potensial bagi masyarakat nelayan. Keberadaan ikan karang berperan sebagai bioindikator keadaan penyesuaian pengaplikasian bambooreef di perairan. Berdasarkan perhitungan analisis data yang dilakukan pada 15 jenis ikan, diperoleh nilai kepadatan tertinggi adalah pada jenis ikan Pomacentrus amboinensis dengan 1.0625 indv/m2 dan terrendah adalah jenis ikan Thalassoma lunare dan Atule mate dengan nilai 0.25 indv/m2. Nilai keanekaragaman diperoleh H’ = 1.14013 menunjukkan nilai yang rendah. Kondisi ini dapat dikarenakan perlunya adaptasi dari hewan – hewan untuk menjadikan bambooreef sebagai tempat tinggal mereka dan kondisi terumbu karang yang belum terlalu baik. Penelitian dilakukan selama 8 bulan yang merupakan kurun waktu singkat untuk mengamati perkembangan suatu ekositem. Selain dari faktor adaptasi dari hewan maupun kondisi bambooreef, ada juga faktor lain yang mempengaruhi. Kondisi lingkungan seperti suhu, salitnitas, kadar oksigen, kekeruhan dan pH menjadikan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap kepadatan ikan. Penggunaan bambooreef menunjukkan peluang untuk dijadikan rumah ikan (tempat hidup, mencari makan, bereproduksi dan tempat berkembang) dan bemanfaat untuk berperan sebagai penyedia stok ikan bagi daerah perairan pantai yang telah mengalami degradasi akibat kerusakan terumbu karang, dan juga dapat dijadikan bentuk pengembangan penyedia stok ikan untuk perairan sekitarnya (Kembey, 2017).
 
PENUTUP
Keadaan ekosistem terumbu karang di Indonesia kini semakin memburuk yang diakibatkan oleh bencana alam dan aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhkan hidup. Sehingga perlunya upaya untuk memperbaiki ekosistem terumbu karang yang dapat dilakukan dengan rekayasa teknologi berupa teknologi terumbu karang buatan dengan bahan bamboo (bambooreef) dan teknologi fragmentasi karang. Penggunaan bambooreef cukup baik dalam menanggulangi degradasi dan menjadi tempat tinggal ikan ikan dalam waktu ketahan bambooreef sekitar 8 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Hartati, Sri Turni. 2016. Kesehatan Terumbu Karang dan Struktur Komunitas Ikan di Perairan Pantai Pangandaran, Jawabarat. Jakarta: Jurnal BAWAL Vol.8, No. 1: 37-48.
Indarjo, Agus. Kondisi Terumbu Karang di Perairan Pulau Panjang Jepara. Semarang: Ilmu Kelautan. Desember 2004. Vol. 9, No. 4 : 217 – 224.
Kembey, Alex D. 2017. Kajian Penempatan Terumbu Buatan Dari Bahan Bambu “Bamboreef” di Perairan Malalayang Dua Kecamatan Malalayang Kota Manado). Manado: Jurnal Ilmiah Platax Vol. 5:(1). 
Rudi, Edi. 2005. Kondisi Terumbu Karang di Perairan Sabang Nanggroe Aceh Darussalam setelah Tsunami. Nanggroe Aceh Darussalam: Ilmu Kelautan. Maret 2005. Vol. 10, No. 1: 50 – 60.
Santoso, Dwi Arif. 2010. Kondisi Terumbu Karang di Pulau Karang Congkak Kepulauan Seribu. Jakarta: Vol.5, No.2:73-78. 
Zulfikar. 2008. Teknologi Fragmentasi Buatan Karang (Caulastrea Furcata Dan Cynarina Lacrimalis) dalam Upaya Percepatan Pertumbuhan pada Kondisi Terkontrol. Jakarta: Jurnal Natur Indonesia Vol.10, No. 2: 76-82. 


Artikel Terkait

Tidak menerima komentar yang singkat dan mengandung sara, politik, ataupun judi dan porn*
EmoticonEmoticon

WHAT'S HOT

pasang iklan