Rabu, 15 Agustus 2018

Merdeka Dengan Tulisan


Kelompok 17!! 17 Agustus Merdeka!! Merdeka!!
Asian Games 2018, ramai dengan segala kompetisi cabor, bahkan kontes-kontes penyemaraknya. Mulai dari lomba fotografi, face painting, musik, social media influencing, dan menulis. Sungguh suatu kehormatan bagi Indonesia, untuk menyambut Asian Games tahun ini. Salah satu kompetisi untuk menyemarakkan event akbar ini adalah Writingthon Asian Games 2018. Sebuah lomba menulis artikel dengan Pelajar/Mahasiswa dan blogger sebagai sasarannya, sebanyak masing-masing satu per kategori dan mewakili 34 provinsi di Indonesia. Bersama bitread publisher, indonesiabaik.id, dukungbersama dan dinaungi kemenkominfo, acara ini menjadi sebuah kompetisi prestisius yang mencerdaskan dan menambah pengalaman. Sebelum para partisipan menghadiri opening ceremonial Asian Games yang juga merupakan bagian dari Writingthon, kira-kira bagaimana, ya, pendapat mereka mengenai kompetisi ini? 

Di sini, para peserta dibagi menjadi tujuh belas kelompok, untuk menulis kesan dan pengalaman, juga pendapat dalam Writingthon kali ini. Dan kami adalah kelompok 17 yang identik dengan tanggal hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Serupa merdekanya kami melalui tulisan lewat Challenge Writingthon Asian Games 2018. Kami berempat dengan beragam latar belakang mencoba menyatukan tulisan sesuai tantangan tersebut.

SELAMAT MEMBACA


WRITINGTHON ASIAN GAMES 2018 ITU... SEPERTI FIBONACCI
Ghea Charya Padanta Ginting
Kategori: Pelajar

Bicara tentang trading, tak akan luput dari deret angka Fibonacci. Hasil akhir dari pernis milik Liber Abaci, resmi direbut nama oleh Leonardo Fibonacci da Pisa. Fibonacci memeroleh deretan angka emas tersebut melalui penelitian pengembangbiakan kelinci yang diternakkan di dalam kandang yang terisolir, yang pada akhirnya menghasilkan sejumlah deretan angka unik. Angka-angka tersebut bersambungan dengan hasil penjumlahan tiap angka dengan angka yang di depannya. Deret ini kemudian merambat dan berkonstelasi dengan beberapa mekanisme di alam semesta, seperti: jumlah kepakan sayap kupu-kupu, jenis kelamin hewan, dan lain sebagainya.

Fibonacci merupakan perumpamaan yang serupa aljabarnya dengan Writingthon Asian Games 2018 kali ini. Writingthon Asian Games 2018 adalah sebuah kompetisi marathon menulis, dengan Asian Games sebagai patokannya. Enam puluh delapan peserta dipilih untuk mewakili 34 provinsi di Indonesia, masing-masing seorang pelajar/mahasiswa, dan seorang blogger. Bersama kementerian komunikasi dan informasi, penerbit bitread, dukungbersama dan indonesiabaik.id, mempersembahkan sebuah kompetisi dan pengembangan potensi yang prestisius.

Now let's talk about the journey. Perjalanan untuk Writingthon Asian Games didesain apik dan mudah diterima, juga dijalankan oleh para peserta. Tak hanya pembiayaan perjalanan dan akomodasi sepenuhnya, materi yang diberikan oleh penyelenggara menjadi pengetahuan tak ternilai yang mungkin tak akan bisa diperoleh dua kali. Dalam acara ini, perwakilan dari daerah yang berbeda-beda dipertemukan, menyulap jarak dan waktu menjadi untaian emas serupa deret Fibonacci da Pisa.

Dari yang tidak saling mengenal, hingga menambah teman. Bermula dari teman, menjadi sahabat. Dari sahabat, berlanjut kepada kolega. Dan bukan hal yang tidak mungkin, jika setelah menjadi kolega, bisa menjadi rekan kerja, mungkin suatu hari nanti. Bermula dari menulis untuk iseng, hingga menjadi menulis untuk kesukaan, kemudian naik tingkat menjadi hobi. Lalu diperniskan martabatnya menjadi menulis untuk kompetisi. Dan bukannya tidak mungkin, setelah menulis untuk diri sendiri, dapat berkembang dan berlanjut sebagai jalan hidup. Fibonacci Asian Games bisa menjadi lebih panjang lagi, selama semua partisipan masih mempertahankan jalinan komunikasi ke depannya.

Jika kita kembali pada Fibonacci dan perumpamaannya, perkembangan matematika pada abad pertengahan di Eropa seiring dengan lahirnya Leonardo dari Pisa yang lebih dikenal dengan julukan Fibonacci (artinya anak Bonaccio). Bonaccio sendiri artinya anak bodoh, tetapi dia bukan orang bodoh karena jabatannya adalah seorang konsul yang wewakili Pisa. Namun siapa yang menyangka, anak Italia dengan olokan berdasarkan stigma yang melekat pada ayahnya, bisa mengukir sejarah dalam dunia sains.

Demikian kita sebagai tuan rumah Asian Games 2018 ini. Tak perlu ditutupi, sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia dianggap sebagai negara yang kurang mumpuni. Namun kita dapat menepis semua stigma dan paradigma, memeroleh kebanggaan sebagai tuan rumah tahun ini. Bagaimana jika kita membuat sebuah history?

WRITINGTHON ASIAN GAMES MERDEKA DARI DAERAH UNTUK INDONESIA.
Fachrur Rozi
Kategori Blogger

Menurut Fachrur Rozi dari Kelompok 17, saya sangat senang dengan adanya lomba Writingthon Asian Games yang membut saya dan semua daerah menjadikan tempat untuk menambah teman baru, pengalaman baru, cerita baru, dan hal yang paling bagus adalah bersilahtuhrami dengan berbagai suku lainnya yang ada di seluruh Indonesia. Bertepatan dengan kelompok 17 yang di artikan bahwa tanggal 17 Agustus 1945 merupakan momen sejarah bagi bangsa Indonesia, yang di mana ternyata pada tanggal 17, bulan Agustus, dan tahun 1945 adalah hari Indonesia benar-benar merdeka dari penjajahan yaitu Belanda dan Jepang. Dengan kegigihan itulah para pendahulu memerdekan bangsa Indonesia. Nah, betapa bangganya bahwa jasa para pendahulu kita untuk memperebutkan kemerdekaan agar di akui seluruh negara di dunia. Dengan adanya lomba Writingthon Asian Games 2018 saya ingin bisa ikut andil dalam partisipasi walaupun tidak seperti pada jaman 1945, namun dengan saya dan seluruh warga Indonesia mendukung bersama  untuk para atlet Indonesia agar bisa membantu dan meraih juara karena Indonesia tahun ini menjadikan tuan rumah. Betapa senangnya saya bisa ikut dalam partisipasi untuk menonton dan mendukung para atlet Indonesia untuk tampil di Asian Games 2018.

Sedikit cerita, saya kemari datang untuk mengikuti Writingthon Asian Games yang di selenggarakan oleh Bitread.id dan Kominfo merupakan hal yang paling istimewa dalam hidup saya. Karena saya harus merelakan satu kegiatan yang merupakan mata kuliah di kampus saya, mata kuliah itu adalah KKN atau di sebut Kerja Kuliah Nyata yang di lakukan pada saat di lapangan dan mengabdi kepada masyarakat Indonesia agar suatu saat nanti ketika menjadi alumni dari suatu kampus, saya bisa memberikan yang terbaik buat masyarakat sekitar. Nah, kegiatan KKN itu di lakukan pada tanggal 18-19 Agustus 2018 lebih tepatnya hari Sabtu dan Minggu.

Saya bersyukur karena pihak penyelenggara Writingthon Asian Games memberikan surat dinspesasi untuk bisa pergi dan dari di situ saya senang dan sujud syukur kepada Tuhan karena sudah diberikan jalan dan kemudahan untuk bisa pergi ke Writingthon Asian Games yang di adakan di Jakarta. Lalu, dengan perginya saya berangakat dari bandara Supadio, Kalimantan Barat tidak lupa juga saya berpamitan pada orang tua. Setelah sampai di bandara Internasioanl Soerkano-Hatta saya berjumpa dengan teman baru yang bernama Maulana berasal dari Kaltim, kemudian ketemu kontingen yang dari kategori pelajar Kalimantan Barat yang bernama Angelia. Sambil berbincang-bincang sambil melontarkan informasi mengapa bisa ikut lomba Writingthon Asian Games karena mereka semua tidak menyangka bisa terpilih dari setiap provinsi atau bisa di sebut perwakilan perprovinsi yang di utus hanya 2 orang dari kategori Blogger dan Pelajar.

Lalu, sambil menunggu jemputan dari bus di bandara, saya ketemu dengan volunteer Asian Games 2018 mereka berkata langsung bahwa mereka menunggu para atlet dari seluruh negeri untuk menemani dan mengantarkan mereka ke penginapan yang ada di Jakarta. Dengan bangganya saya yakin Asian Games 2018 pasti sukses dan membuat Indonesia layak di jadikan sebagai tuan rumah. Dengan dukung bersama dari seluruh elemen masyarakat baik dari pemerintahan maupun masyarakat sangat antusias untuk memberikan dukungan bersama. Setelah kami semua di jemput dari bandara menuju ke hotel Millenium, sesampai di sana saya mendapatkan kartu kamar dengan nomor 1229, lalu saya menuju ke atas lantai 12.

Saya benar-benar tidak menyangka sudah ada orangnya pada saat ke kamar, dan ternyata orang yang ada di kamar sudah datang pada pukul 11.20 dan nama orang itu adalah mas Firman yang berasal dari Banten. Saya sangat senang sekali bisa sekamar dengan orang asing karena dengan begitu bisa menambah jaringan pertemenan dan menambah pengalaman. Saling berbagi informasi tentang mengapa bisa ikut lomba Writingthon Asian Games dan sharing tentang blogger, lomba lain, dan kehidupan pribadi. Tak terasa waktu sudah pukul 18.00 yang Adi mana harus solat maghrib dan makan malam, dengan adanya kenalan baru di ruang meja makan saya sangat senang banget bisa berkenalan dengan lainnya.

Lalu di lanjutkan kegiatan dari panitia untuk masuk ke ruangan teratari room, di sana saya bisa melihat dengan banyaknya orang lain dari seluruh penjuru daerah Indonesia. Kemudian saya meminta perkenalan satau sama lain dan bertanya nama, asal dari mana, dan kategori Blogger atau Pelajar. Setelah mengikuti rangkain kegiatan dari pihak bitread atau Writingthon Asian Games tepat pada pukul 21.00 kami semua keluar ruangan, ada beberapa peserta memanfaatkan untuk istirahat di kamar masing-masing dan ada juga yang lainnya untuk memanfaatkan  “walking street in the night on Jakarta” berjalan malam hari di Jakarta termasuk saya sendiri melakukan hal itu. Dengan momen dengan waktu yang tidak lama saya memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mencari spot untuk berfoto bersama mas Firman, dan Mahdi yang berasal dari NTB. Pada saat hunting kami berangkat berlima bersama Bimo dan mbak Ria pergi menggunakan Grab untuk mencari makan, dan saya, mas Firman, Mahdi mencari spot untuk  berfoto di Jakarta dan  tidak terasa sampai jam 23.00 baru kami pulang ke hotel dengan berjalan kaki. Dan di saat itulah saya mengerti sisi malam dari Jakarta sangat luar biasa berbeda dengan daerah saya kota Pontianak, Kalimantan Barat. Itulah cerita pengalaman saya di hari pertama bersatu dengan tema dukung bersama, Writingthon Asian Games, Asian Games 2018, dan bitread.id.

DUKUNGAN DAN KESEHATAN
dr. Adi Pendet
Kategori Blogger

Kami mendukung kalian wahai para atlet Indonesia! Puji syukur atas peran Kemenkominfo memberi wadah bagi kami para masyarakat non atlet, dalam Asian Games 2018. Dukungbersama.id adalah gelanggang para masyarakat  Indonesia dalam mendukung para atlet yang kini sedang berkeringat. Masyarakat dapat mendukung dengan sederhana, yakni lewat foto, video, tulisan, hingga membuat gapura! Dan momen Asian games 2018 di Jakarta dan Palembang membuat kami para blogger dan pelajar Indonesia mendukung lewat Writingthon kepada sang juara yang bertanding.

Writingthon sungguh sebuah kegiatan yang membuat kita sehat paripurna. Tantangan dalam menulis (writing marathon) bagi para penulis terpilih dari seluruh nusantara ini, secara medis mampu memebri kesehatan fisik, mental dan sosial. Kegiatan ini melatih daya adaptasi diri secara fisik. Para finalis datang dari Sabang sampai Merauke dengan kondisi cuaca, kelembaban, suhu dan berbagai faktor fisik lain yang berbeda dengan di Jakarta.

Secara mental para penulis berhadapan dengan teman baru, dan pengalaman baru. Proses ini disebut sebagai mindful-based, yakni situasi secara sadar dalam merasakan ketiga hal baru tersebut (tempat, teman, pengalaman). Kegiatan ini mampu memperbaiki kesehatan mental seseorang, dan membuat seorang menikmati kehidupan secara sadar serta menghargai orang disekitar mereka.

Kesehatan sosial dari acara Writingthon diperoleh melalui proses bertukar pengalaman selama proses karantina berlangsung. Sesi ini memberi kesempatan bagi para penulis untuk belajar dalam menerima keadaan diri. Banyak dari finalis menceritkan apa adanya dari setiap kekonyolan hingga ketegangan dalam perjalanan writingthon berlangsung. Para finalis juga belajar dalam memberi kesempatan yang sama dalam bercerita, karena setiap pengalaman di nusantara amatlah bernilai untuk kami dengarkan. Dengan belajar menerima keadaan diri dan memberi kesempatan yang sama, tentu semakin memudahkan kami dalam bergaul dan mengenal indahnya keberagaman nusantara. Apalagi berbagai kisah yang menghibur, sukses membuat para finalis dan peserta tertawa lepas dimalam penuh suka cita tersebut.

Akhirnya, dengan segala manfaat kesehatan yang diperoleh dari dukungbersama.id, writingthon dan Asian Games 2018, maka sekali lagi, kami mendukung kalian wahai para atlet Indonesia!

Gemuruh Dukung Asian Games di Balik Gempa Lombok
Mahdi Singaparado
Pelajar

Mentari telah meninggi di Timur. Pagi itu, aku turun dari Batik Air yang menerbangkanku dari Bima. Aku telah sampai di Lombok, untuk transit ke Jakarta selama lima jam. Berbicara tentang Lombok, aku ingin memastikan satu hal yang begitu jadi teringat kisah pilu ketika aku berkunjung ke Lombok minggu lalu.
Lombok. Momok yang begitu menggugah untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak? Pulau yang dijuluki Pulau Seribu Surau itu selalu menarik insting tiap pelancong yang bertandang padanya. Apa memang yang kurang dari Lombok? Gunung? Hutan? Bentang Lautan? Atau budaya lokalnya yang begitu rupawan? Semuanya, dapat kau temukan di Lombok. Andai kata kau ingin menapaki kebudayaan, maka Lombok memiliki budaya Islam dan Hindu yang bersinergi. 
Namun, sayangnya, segala keindahan itu kini berujung menjadi sebuah malapetaka yang begitu menggugah hati nurani seluruh insan Nusantara. Pulau Seribu Surau itu kini luluh lantak oleh guncangan dahsyat, gempa 7 Skala Richter yang terjadi sepersekian hari lalum, yang berhasil menghancurkan bangunan-bangunan indah tempat dikumandangkannya panggilan bagi umat muslim, Surau. Gempa yang telah sukses membunuh asa para pejuang kehidupan. Gempa yang hampir memutus nadi kepercayaan manusia Lombok terhadap nasib baik.
Yang pasti, gempa itu begitu disayangkan.
Aku, yang baru sampai di Lombok kemarin, seketika meneguk ludah menyaksikan buah peristiwa itu. Reruntuhan itu begitu nyata, dapat kulihat surau-surau yang hancur, sekolah yang rata dengan tanah, dan tenda-tenda pengungsi yang jauh dari kata layak.
Sampai tibalah aku pada satu tenda yang begitu menarik perhatian. Di dalam tenda tersebut, terdapat seorang ibu yang sedang menggendong putranya yang meronta kesakitan. Hal yang menarik perhatianku adalah, bagaimana cara ibu itu menenangkan putranya. Kau tahu? Ibu itu memberikan boneka Atung dan Bhin-bhin pada sang putra, sambil menyanyikan lagu Sipatokaan, lagu daerah Sulawesi Utara. 
Tertarik, aku menghampiri ibu itu dan menanyakan alasannya melakukan hal tersebut. 
“Pada gempa minggu malam kemarin, saya sedang berada di luar, sementarakan putra saya berada di rumah bersama anak tetangga saya. Mereka sedang bermain, dan gempa itu pun terjadi. Anak tetangga saya berlari lebih dulu ke luar, sementarakan dia,” ibu itu melirik putranya, “tak sempat berlari sehingga kakinya tertimpa genteng yang jatuh. Dan alhamdulillah, dia selamat walau kakinya harus dijahit, yang pasti dia tidak akan bisa berjalan dengan baik ketika dia pulih.”
Sisi kemanusiaanku tergugah. Aku menyaksikan lekat-lekat mata ibu itu yang berkaca-kaca. Tangisnya pecah kemudian. 
“Tapi suami saya tidak selamat. Beliau merupakan seorang pekerja proyek dan penggila olahraga, terutama bulu tangkis, dan ketika beliau mendengar kabar tentang Asian Games yang digelar di Indonesia, beliau nampak begitu gembira. Beliau berjanji mengajak saya dan anak saya untuk menonton langsung pertandingan bulu tangkis di Jakarta, namun, takdir berkata lain,” ibu itu makin terisak, “suami saya tertimpa reruntuhan ketika beliau berada di Lombok Utara untuk meninjau lokasi proyek barunya.”
Aku meringis mendengar pernyataan ibu itu. Mataku telah berkaca, tangisku hampir pecah, aku teringat ayahku.
“Lalu kenapa ibu tadi menyanyikan lagu Sipatokaan?”
Ibu itu diam sepersekian detik. 
“Suami saya orang Sulawesi Utara. Dia dulu sering menyanyikan lagu Sipatokaan untuk anak kami. Untuk mengenang beliau, saya menyanyikan lagu itu. Dan untuk meneruskan semangat suami saya tentang semarak Asian Games yang begitu dielu suami saya.”
Aku menghela napas panjang. Ya, walau gempa telah meluluhlantakkan Lombok, namun semangat mendukung negeri demi sebuah kemenangan takkan pernah bisa dihancurkan, apalagi dilenyapkan. Contohnya ibu Aminah, ibu yang baru saja kutanyai. Ya, semangat mendukung Asian Games memang selalu berkobar.

#DukungBersama #WritingthonAsianGames #AsianGames2018 #Bitread #Kominfo



Artikel Terkait