Mengapa Banyak Orang Tetap Miskin Meski Rajin Bekerja? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Pernahkah kalian melihat seseorang yang bangun pagi, pulang larut malam, bekerja tanpa lelah setiap hari tapi tetap saja hidup pas-pasan? Fenomena ini bukan hal baru.
Banyak orang yang tergolong “working poor” atau pekerja miskin: mereka punya pekerjaan tetap, tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ini bukan soal malas atau boros.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Artikel ini mengulas penjelasan ilmiah di balik fenomena tersebut.
Siapa Itu Pekerja Miskin? (The Working Poor)
Definisi Working Poor
Working poor adalah individu yang meskipun memiliki pekerjaan, tetap hidup di bawah garis kemiskinan.
Mereka bukan pengangguran, bukan pula malas.
Mereka adalah buruh, petugas kebersihan, penjaga keamanan, hingga pekerja informal yang kadang bekerja lebih dari 40 jam seminggu.
Bukan Tentang Kemalasan
Anggapan bahwa kemiskinan selalu disebabkan oleh malas bekerja adalah keliru.
Studi menunjukkan bahwa banyak orang miskin justru bekerja lebih keras daripada kalangan menengah-atas, namun tetap tak bisa keluar dari jebakan ekonomi.
Baca : Mengapa orang miskin tetap miskin walaupun sudah berusaha?
![]() |
| Orang Miskin Tetap Bekerja |
Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan Meski Bekerja Keras
1. Upah Riil yang Stagnan
Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan upah riil (upah yang disesuaikan dengan inflasi) di banyak negara berkembang termasuk Indonesia mengalami stagnasi.
Artinya, meskipun nominal gaji naik, daya beli masyarakat tetap rendah karena biaya hidup meningkat lebih cepat.
2. Ketimpangan Pendapatan dan Kesenjangan Kesempatan Ekonomi
Distribusi kekayaan yang timpang membuat pertumbuhan ekonomi hanya menguntungkan segelintir orang.
Sementara mayoritas pekerja tidak merasakan peningkatan kesejahteraan.
Kesenjangan ini diperparah oleh terbatasnya akses terhadap peluang ekonomi yang adil.
3. Low-Wage Trap (Perangkap Upah Rendah)
Begitu seseorang masuk ke dalam lingkaran pekerjaan berupah rendah, akan sulit baginya untuk keluar.
Jam kerja yang panjang membuat mereka tak punya waktu atau energi untuk meningkatkan keterampilan atau pendidikan.
Ini disebut sebagai low-wage trap.
Baca : Mengapa Orang Miskin Tetap Miskin? Mengungkap Pola Struktural yang Jarang Dibahas
4. Kualitas Pekerjaan yang Rendah
Kualitas pekerjaan (job quality) mencakup stabilitas kerja, tunjangan, dan kesempatan berkembang.
Banyak pekerja terjebak dalam pekerjaan informal atau kontrak pendek tanpa jaminan sosial, asuransi kesehatan, maupun peluang kenaikan jabatan.
5. Akses Pendidikan dan Human Capital
Investasi pada pendidikan sangat menentukan kualitas tenaga kerja.
Namun, banyak orang miskin kesulitan mengakses pendidikan yang layak, sehingga keterampilan mereka tetap rendah dan hanya bisa mengakses pekerjaan berupah rendah.
Lingkaran Kemiskinan dan Mobilitas Sosial yang Mandek
1. Poverty Cycle (Lingkaran Kemiskinan)
Pekerja miskin sering kali tidak hanya kekurangan uang, tetapi juga waktu, koneksi sosial, dan informasi.
Akibatnya, mereka sulit mengakses peluang yang bisa memperbaiki hidupnya. Inilah yang disebut sebagai “lingkaran kemiskinan.”
2. Mobilitas Sosial yang Terhambat
Mobilitas sosial vertikal naik dari kelas ekonomi bawah ke tengah atau atas sangat tergantung pada akses pendidikan, jaringan, dan modal.
Di banyak wilayah, jalur ini sangat sempit bagi pekerja miskin, terutama yang hidup di daerah dengan infrastruktur terbatas.
Baca : Usaha Tanpa Hasil? Analisis Mendalam Mengapa Kemiskinan Sulit Diputus
Peran Sistemik dan Ketimpangan Struktural Ekonomi
1. Pasar Tenaga Kerja Informal dan Eksploitasi
Banyak pekerja tidak memiliki kontrak resmi.
Mereka bekerja di sektor informal, tanpa perlindungan hukum, tanpa upah minimum yang pasti.
Ini membuka ruang untuk eksploitasi dan memperburuk ketidakamanan kerja (job insecurity).
2. Keterbatasan Akses Modal
Ingin membuka usaha sendiri? Sayangnya, banyak pekerja miskin tidak punya akses ke permodalan formal seperti pinjaman bank.
Mereka juga tidak memiliki aset yang bisa dijadikan jaminan.
3. Biaya Hidup yang Terus Naik
Meski pendapatan tetap, biaya kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, dan tempat tinggal naik terus.
Kombinasi ini menciptakan tekanan finansial yang konstan dan menyulitkan akumulasi tabungan atau investasi.
Baca : Kerja Keras Bukan Jaminan: Faktor Tersembunyi yang Membuat Kemiskinan Bertahan
Kesehatan, Upah Minimum, dan Kebijakan Publik
1. Hubungan Antara Kesehatan dan Kemiskinan
Pekerja miskin lebih rentan terhadap gangguan kesehatan karena pola makan kurang gizi, stres kronis, dan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Ironisnya, sakit membuat mereka kehilangan penghasilan dan memperparah kondisi finansial.
2. Kebijakan Upah Minimum
Kebijakan upah minimum bertujuan melindungi pekerja dari eksploitasi.
Namun, tanpa pengawasan yang ketat dan penegakan hukum, banyak perusahaan menghindari kewajiban ini.
Akibatnya, pekerja tetap dibayar di bawah standar hidup layak.
3. Ketimpangan Struktural Ekonomi
Struktur ekonomi yang tidak inklusif di mana sektor formal hanya menyerap sedikit tenaga kerja dan sektor informal berkembang pesat menciptakan sistem yang tidak adil.
Tanpa reformasi struktural, ketimpangan akan terus meningkat.
Baca : Apakah Sistem yang Salah? Menelusuri Akar Mengapa Orang Miskin Sulit Naik Kelas
Apa Solusinya? Jalan Keluar dari Kemiskinan Struktural
1. Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan
Meningkatkan akses ke pendidikan dan pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja adalah langkah krusial untuk membangun human capital yang kompetitif.
2. Perlindungan Pekerja dan Penegakan Hukum Ketenagakerjaan
Pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap pelanggaran upah minimum dan memberikan perlindungan bagi pekerja informal.
3. Akses Modal dan Inklusi Keuangan
Memberikan akses kredit mikro, pelatihan keuangan, dan tabungan produktif kepada kelompok miskin bisa membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
4. Reformasi Pasar Tenaga Kerja
Menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas dengan jaminan sosial, jenjang karir, dan upah layak adalah kunci agar kerja keras benar-benar membuahkan hasil.
Kesimpulan
Kerja keras saja tidak cukup untuk keluar dari kemiskinan.
Banyak faktor struktural dan sistemik yang membuat seseorang tetap miskin meskipun rajin bekerja.
Dari upah riil yang stagnan, keterbatasan akses pendidikan dan modal, hingga eksploitasi di sektor informal, semuanya membentuk jebakan kompleks bernama “kemiskinan struktural.”
Dibutuhkan pendekatan holistik, berbasis kebijakan publik yang adil, untuk mengurai masalah ini.
Dengan meningkatkan kualitas pekerjaan, akses terhadap pendidikan dan modal, serta reformasi pasar tenaga kerja, kerja keras bisa mulai sepadan dengan hasil yang layak.
Baca : Miskin Bukan Sekadar Kurang Usaha: Temuan Penelitian yang Mengejutkan
FAQ
1. Apa itu working poor?
Working poor adalah orang yang memiliki pekerjaan tetap namun penghasilannya masih di bawah garis kemiskinan.
2. Apakah semua orang miskin karena malas?
Tidak. Banyak orang miskin bekerja sangat keras, tetapi sistem dan struktur ekonomi tidak memberi peluang yang adil.
3. Apa yang dimaksud dengan low-wage trap?
Perangkap upah rendah terjadi saat seseorang tidak bisa keluar dari pekerjaan bergaji kecil karena tidak punya waktu, energi, atau akses untuk meningkatkan keterampilannya.
4. Apakah pendidikan benar-benar bisa mengatasi kemiskinan?
Pendidikan berkualitas dan relevan dengan pasar kerja bisa menjadi alat mobilitas sosial, tetapi harus diiringi dengan akses, pembiayaan, dan kebijakan yang inklusif.
5. Bagaimana kebijakan upah minimum bisa membantu?
Upah minimum yang adil, jika ditegakkan dengan benar, dapat menjadi jaring pengaman bagi pekerja dari eksploitasi dan membantu menciptakan standar hidup layak.
Apabila kalian merasa artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk membagikannya.
Mungkin saja ada orang lain yang juga butuh tahu bahwa kemiskinan bukan hanya soal kerja keras, tapi juga soal sistem yang perlu diperbaiki bersama.
.png)