Analisa Saham INET secara Fundamental, Teknikal, dan Broker Summary

PT Sinergi Inti Andalan Prima (Perseroan) merupakan perusahaan yang memberikan layanan business to business (B2B) kepada para mitra Perseroan yang sebagaian besar merupakan perusahaan internet service provider (ISP) dengan market share lebih dari 100 perusahaan dari seluruh ISP di Indonesia yang jumlahnya mencapai 800 perusahaan. 

Para Pelanggan Perseroan tersebar diseluruh wilayah Indonesia dari ISP besar berskala Nasional sampai ISP didaerah yang bersekala kecil. 

Layanan yang perseroan tawarkan antara lain adalah layanan pusat data interkoneksi, layanan kolokasi, layanan local loop atau local access serta layanan IP Transit (NAP) bekerjasama dengan mitra Perseroan. 

Sejak didirikan pada 2016, saat ini Perseroan telah berkembang cukup pesat dengan memiliki POP (point of presence) berjumlah 13 POP yang tersebar di 8 kota-kota besar di Indonesia mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Balikpapan, Medan dan Lampung dan 1 POP di Singapura. 

13 POP yang ada merupakan lokasi dimana Perseroan dapat memberikan layanannya kepada pelanggan, bukan merupakan kantor perwakilan dari kantor pusat. 

Apabila dimisalkan dengan industri perbankan, maka POP dapat dimisalkan sebagai sebuah lokasi yang disitu ada mesin ATM dari Bank tertentu, bukan kantor cabang Bank tersebut.

📊 1. Analisis Teknikal (Pergerakan Harga dan Volume)

  • Harga penutupan: Rp685 (+95 / +16,10%) pada tanggal 6 Januari 2026.

  • Volume transaksi: 786,09 juta lembar, cukup tinggi dan hampir menyamai rata-rata volume harian 948,49 juta.

  • Grafik intraday menunjukkan pola recovery pasca tekanan jual di sesi pagi hingga stabil di kisaran 660–685 menjelang penutupan.

📌 Sinyal teknikal:

  • Kenaikan harian sebesar +16% menunjukkan potensi breakout. Namun, perlu dikonfirmasi dengan:

    • Kenaikan lanjutan >700.

    • Akumulasi oleh broker besar (belum sepenuhnya terjadi, lihat broker summary).

  • Risiko koreksi jangka pendek masih ada jika tidak mampu bertahan di atas 670–680 (support minor).

💼 2. Broker Summary (periode 1 - 6 Jan 2026)


    📌 Analisis:

    • Net sell oleh Top 3 dan Top 5 broker besar, ini indikasi distribusi oleh institusi atau big player.

    • Broker-broker besar tidak menunjukkan akumulasi, justru melepas kepemilikan selama harga naik.

    • Rata-rata volume distribusi mencapai 629 ribu lot, cukup besar dalam periode singkat.

🤝 Aktivitas Buyer vs Seller

  • Broker total aktif: 46 (pembeli), 26 (penjual), dan 20 yang netral

  • Net Volume: +3.694.268 lot

  • Net Value: 223,28 miliar IDR

  • Average Price: Rp604

📌 Catatan:

  • Meskipun ada distribusi dari broker besar, secara keseluruhan pasar mencatat net buy – artinya retail atau broker kecil banyak menyerap.

🧾 Daftar Broker Teratas (By Net Buy)


📌 Buyers utama:

  • Broker XL adalah pembeli paling agresif.

  • Harga beli rata-rata berada di kisaran 619 (cukup tinggi), artinya mereka masuk saat harga sudah naik.

🛑 Daftar Broker Teratas (By Net Sell)


📌 Sellers utama:

  • Broker MG dan YB adalah pihak yang dominan jual dengan nilai besar.

  • MG menjual di harga tinggi, menunjukkan mereka bisa profit taking setelah harga naik signifikan.

📌 Catatan Penting

AspekKeterangan
HargaMenguat signifikan +16%, ditutup di high
VolumeCukup aktif tapi belum ekstrem
Broker SummaryDistribusi oleh top broker, sinyal peringatan bagi trader
RetailTerlihat aktif membeli di harga tinggi
Aksi KorporasiPerlu ditelusuri lebih lanjut (right issue? akuisisi?)

📉 3. Fundamental INET

Profil Singkat:

  • Sektor: Telekomunikasi & Teknologi

  • Sub-sektor: Infrastruktur Telekomunikasi & Data

  • Termasuk dalam indeks: IDX-SMC Composite, Saham Syariah

Kondisi Fundamental (per Q3 2025 – perlu data lengkap terkini untuk verifikasi):

  • INET dikenal sebagai emiten dengan kapitalisasi kecil (microcap) dan seringkali digunakan untuk spekulasi jangka pendek.

  • Margin laba dan arus kas cenderung kecil, dengan pertumbuhan yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir.

  • Tidak termasuk dalam radar investor institusi besar, lebih banyak diperdagangkan oleh retail dan trader momentum.

📌 Risiko fundamental:

  • Ketergantungan pada aksi korporasi untuk menggerakkan harga.

  • Laporan keuangan cenderung lemah, DER tinggi, dan profitabilitas minim.

📌 4. Aksi Korporasi

Terdapat catatan: "Perusahaan memiliki Corporate Action" namun belum dijelaskan secara spesifik dalam tangkapan layar.

🔎 Kemungkinan Aksi Korporasi:

  • Right Issue / Penambahan Modal dengan HMETD?

  • Private Placement?

  • Akuisisi atau ekspansi infrastruktur?

📌 Catatan penting:

  • Aksi korporasi sering menjadi “pemicu teknikal” untuk harga saham gorengan, tapi tidak selalu mencerminkan nilai intrinsik.

  • Jika right issue, perhatikan harga pelaksanaan dan tujuan dana.

  • Jika akuisisi, perhatikan apakah menambah nilai jangka panjang atau hanya buzz sesaat.

🌱 5. Prospek Jangka Panjang

📈 Positif jika:

  • Aksi korporasi benar-benar memperkuat fundamental (ekspansi layanan internet, kolaborasi dengan BUMN, dll).

  • Laporan keuangan membaik dan mampu mencatatkan laba operasional berkelanjutan.

  • Menang tender pemerintah (misalnya proyek BTS/USO) di masa mendatang.

📉 Negatif jika:

  • Hanya menjadi saham gorengan tanpa peningkatan kinerja nyata.

  • Dilusi besar-besaran tanpa prospek keuntungan bagi pemegang lama.

Kesimpulan dan Rekomendasi
AspekPenilaian
HargaOverbought jangka pendek
VolumeAktif, tapi didominasi distribusi
BrokerBelum ada tanda akumulasi kuat
FundamentalLemah, perlu klarifikasi aksi korporasi
ProspekSpekulatif, bukan untuk investor konservatif

📌 Rekomendasi:

  • Trader: Bisa mengikuti momentum, tapi disiplin cutloss <665 dan take profit jika tembus >700.

  • Investor: Hindari sebelum aksi korporasi dan laporan keuangan terbaru keluar.