'Gigitan' Corona? Bank Mana yang Bertahan?

'Gigitan' Corona? Bank Mana yang Bertahan?

'Gigitan' Corona? Bank Mana yang Bertahan? - Menurut data yang dihimpun oleh Bisnis, dari empat bank pelat merah yaitu BTN yang mencatatkan pertumbuhan laba, sedangkan tiga lainnya membukukan kontraksi profit di tengah tekanan pandemi Covid-19. Bank-bank milik negara telah menyampaikan kinerja sepanjang tahun lalu. Dari empat bank BUMN, BRI, Bank Mandiri, dan BNI telah menyampaikan laporan secara resmi, sedangkan BTN mengumumkan realisasi laba 2020 saat rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR.

Berdasarkan data yang dihimpun dari bisnis, dari empat bank pelat merah hanya BTN yang mencatatkan pertumbuhan laba, sedangkan tiga lainnya membukukan kontraksi profit di tengah tekanan pandemi Covid-19. Sementara itu, kinerja fungsi intermediasi tampak masih baik ketimbang kinerja industri secara umum. Hanya Bank Mandiri yang mencatatkan kontraksi pada kinerja kredit. Namun, kinerja tersebut tetap lebih baik ketimbang industri perbankan nasional yang terkontraski hingga 2,4 persen.

Menanggapi kinerja bank-bank milik pemerintah sepanjang 2020, Senior Faculty LPPI Moch. Amin Nurdin mengatakan performa kinerja pada tahun lalu masih tergolong baik. Penurunan kinerja laba masih sangat relevan dengan upaya restrukturisasi kredit yang diharapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Amin mengatakan potensi peningkatan kinerja bank milik pemerintah tahun ini pun lebih besar. Likuiditas longgar dan modal pun masih sangat kuat untuk mendanai ekspansi kredit dan mitigasi risiko tahun ini. Strategi pencadangan yang agresif tahun ini pun akan membantu akselerasi kinerja tahun ini. Hanya, dia berpendapat akselerasi kinerja masih perlu menunggu pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

"Apalagi, kinerja ekonomi yang lebih baik tersebut tampaknya belum bisa cepat. Mungkin pertengahan tahun ini, dan lebih kuat lagi pada tahun depan," katanya.

Adapun, berikut rekapitulasi hasil kinerja terutama pertumbuhan laba dari tertinggi ke rendah di bank-bank BUMN:

Bank BTN


PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menjadi satu-satunya bank BUMN yang membukukan laba bersih sepanjang tahun lalu, yaitu senilai Rp1,6 triliun. Raihan ini naik 6,7 kali lipat atau meroket 664,6 persen dari 2019, yang senilai Rp209,26 miliar. Plt Direktur Utama Bank BTN Nixon L.P. Napitupulu menyampaikan perseroan membukukan kinerja yang cukup stabil pada masa pandemi tahun lalu pada Rapat dengar Pendapat Komisi XI DPR. 

Peningkatan pendapatan masih dapat dilakukan dengan ekspansi kredit terukur sambil menurunkan beban dana. Mitigasi risiko dapat dijalankan di tengah mencetak laba untuk penguatan modal kinerja ke depannya. Dia menyampaikan selama masa pandemi perseroan mampu menurunkan beban dana cukup konsisten. Selain dari dampak positif relaksasi kebijakan moneter, Bank BTN juga mulai dapat merapikan struktur dananya dengan fokus pada dana murah.

Selama masa pandemi, perseroan juga mencatatkan pertumbuhan kredit positif, yakni 1,7 persen menjadi Rp260,12 triliun. Kredit dari segmen subsidi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 7,7 persen secara tahunan menjadi Rp107,1 triliun. Adapun, restrukturisasi kredit Bank BTN mencapai Rp57,5 triliun. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross mampu ditekan 67 bps secara tahunan menjadi 4,24 persen. Coverage ratio dari kredit terdampak pandemi pun mencapai 117,30 persen.

Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencatatkan laba bersih Rp17,11 triliun untuk tahun buku 2020. Realisasi laba tersebut terpangkas 37,71 persen secara tahunan. Koreksi tersebut salah satunya didorong oleh pendapatan bunga bersih terpangkas 5,27 persen secara tahunan menjadi Rp58,02 triliun. Di sisi lain, pendapatan berbasis komisi atau fee based income terkerek 4,92 persen secara tahunan menjadi Rp28,69 triliun.

Penyaluran kredit perseroan yang terkontraksi 1,61 persen yoy secara ending balance, meski masih lebih baik bila dibandingkan dengan kontraksi 2,41 persen yang dialami perbankan nasional. Secara konsolidasi, pertumbuhan kredit secara average balance atau baki debet rata-rata berhasil mencatat perkembangan, yakni tumbuh 7,08 persen yoy menjadi Rp871,3 trilun.

Perseroan pun mampu menjaga kualitas kredit sehingga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) konsolidasi masih baik di 3,09 persen. Adapun, Bank Mandiri berhasil menurunkan cost of fund sebesar 33 bps yoy menjadi 2,53 persen pada Desember 2020, sedangkan biaya operasional hanya tumbuh 1,42 persen, dibandingkan dengan kenaikan biaya operasional periode sebelumnya yang mencapai 6,68 persen.

BRI


PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. membukukan total laba bersih konsolidasian sebesar Rp18,65 triliun pada 2020. Perolehan laba bersih Rp18,65 triliun tersebut lebih rendah 45,65 persen year on year (yoy) dibandingkan dengan periode sama tahun 2019 sejumlah Rp34,37 triliun.

Kondisi tersebut lantaran adanya tekanan di sisi pendapatan. Pendapatan bunga BBRI pada 2020 mencapai Rp116,93 triliun, turun 3,96 persen yoy dari Rp121,76 triliun pada 2019. Pendapatan bunga bersih serta pendapatan premi (beban klaim) bersih sejumlah Rp80,09 triliun pada 2020, turun dari Rp82,72 triliun pada 2019.

Total aset Bank BRI pada akhir 2020 sejumlah Rp1.511,8 triliun. Nilai itu meningkat dibandingkan Rp1.416,76 triliun pada 2019. Hingga akhir Desember 2020, secara konsolidasian BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp 938,37 triliun atau tumbuh 3,89 persen year on year (yoy).

Angka ini jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional di tahun 2020 yang diperkirakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berada dikisaran minus 1 hingga 2 persen.

BNI



PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan laba bersih senilai Rp3,28 triliun sepanjang 2020. Raihan tersebut terkontraksi 78,7 persen secara tahunan jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya. Pada 2019, emiten dengan kode saham BBNI ini membukukan laba bersih senilai Rp15,38 triliun.

Berdasarkan paparan analyst meeting kinerja BNI 2020, pada periode yang sama aset perseroan masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,4 persen yoy, dari Rp845,60 triliun menjadi Rp891,34 triliun. BBNI juga masih membukukan pertumbuhan kredit sebesar 5,3 persen yoy dari Rp556,77 triliun menjadi Rp586,21 triliun. Sementara, himpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi, yaitu sebesar 10,6 persen yoy dari Rp614,31 triliun menjadi Rp679,45 triliun.

Di tengah masa pandemi, BNI meningkatkan provisi secara signifikan sebesar 155,6 persen yoy dari Rp8,84 triliun menjadi Rp22,59 triliun. Pendapatan BNI sebelum provisi turun tipis 1,8 persen yoy dari Rp28,32 triliun menjadi Rp27,82 triliun. Pendapatan bunga bersih BBNI sendiri masih tumbuh 1,5 persen yoy menjadi Rp37,15 triliun.

Adapun, sepanjang 2020 rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perseroan tercatat di level 4,3 persen, naik 200 basis poin dari 2019 yang sebesar 2,3 persen dengan NPL coverage ratio 182,4 persen. Rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) sebesar 87,3 persen dan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) 16,8 persen.

Bisnis Informasi

1 Komentar untuk "'Gigitan' Corona? Bank Mana yang Bertahan?"

  1. BTN punya bisnis properti yang mana properti tetap berjalan saat pandemi ya kan. Walau ada program restrukturisasi, tapi BTN tetap membukukan laba.

    BalasHapus
Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel